Beranda / Uncategorized / PETI: Jalan Menuju Kesejahteraan, atau Justru Perenggut Nyawa Masyarakat?

PETI: Jalan Menuju Kesejahteraan, atau Justru Perenggut Nyawa Masyarakat?

PETI: Jalan Menuju Kesejahteraan, atau Justru Perenggut Nyawa Masyarakat?

Naraswara.id – OPINI | Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) kerap dibenarkan dengan alasan sederhana: masyarakat membutuhkan pekerjaan, membutuhkan penghasilan, dan membutuhkan jalan keluar dari tekanan ekonomi. Di tengah sulitnya lapangan pekerjaan, aktivitas pertambangan memang dapat memberikan pemasukan cepat bagi sebagian warga.
Namun, pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah kesejahteraan yang dihasilkan PETI benar-benar sebanding dengan risiko yang harus ditanggung masyarakat?
Sebab, ketika aktivitas pertambangan dilakukan tanpa perencanaan lingkungan yang memadai, tanpa standar keselamatan yang jelas, serta tanpa pengawasan yang efektif, keuntungan ekonomi sesaat dapat berubah menjadi persoalan sosial dan lingkungan yang panjang.
Ketika Uang Hari Ini Dibayar dengan Risiko Esok Hari
PETI mungkin memberikan penghasilan bagi pekerja, pemilik usaha, maupun masyarakat yang berada di sekitar lokasi tambang. Akan tetapi, manfaat ekonomi tersebut perlu dilihat secara lebih luas.
Kerusakan kawasan hutan, pencemaran sumber air, longsor, perubahan bentang alam hingga kecelakaan kerja merupakan risiko yang tidak boleh dianggap sebagai harga yang wajar dari sebuah aktivitas ekonomi.
Lebih mengkhawatirkan lagi apabila masyarakat yang tidak terlibat langsung dalam kegiatan tambang justru ikut menanggung dampaknya.
Mereka membutuhkan air bersih. Mereka membutuhkan lingkungan yang aman. Mereka membutuhkan lahan yang produktif. Dan yang paling mendasar, mereka berhak pulang ke rumah tanpa dihantui kekhawatiran bahwa aktivitas pertambangan di sekitar mereka dapat berubah menjadi bencana.
Siapa yang Bertanggung Jawab Jika Nyawa Menjadi Taruhan?
Di sinilah pemerintah dan aparat penegak hukum dituntut untuk hadir.
Negara tidak boleh hanya hadir ketika terjadi kecelakaan, longsor, atau korban jiwa. Negara harus hadir sebelum tragedi terjadi.
Pengawasan terhadap aktivitas pertambangan harus dilakukan secara konsisten. Jika ditemukan kegiatan pertambangan tanpa izin, pemerintah bersama aparat terkait harus mengambil langkah sesuai ketentuan hukum.
Sebaliknya, apabila terdapat aktivitas PETI yang berlangsung lama dan diketahui banyak pihak tetapi tidak ditindak, maka publik berhak mempertanyakan efektivitas pengawasan dan penegakan hukum.
Pertanyaan publik sederhana: sampai kapan keselamatan masyarakat harus dipertaruhkan demi keuntungan ekonomi sesaat?
Kesejahteraan Tidak Boleh Didefinisikan Hanya dari Isi Kantong
Kesejahteraan bukan sekadar berapa rupiah yang dibawa pulang seorang pekerja tambang hari ini.
Kesejahteraan juga berarti lingkungan yang sehat, air yang aman, pekerjaan yang layak, keselamatan kerja, pendidikan bagi anak-anak, serta masa depan masyarakat yang tidak dibebani kerusakan lingkungan.
Jika seseorang mendapatkan penghasilan dari tambang tetapi keluarganya kehilangan sumber air bersih, apakah itu masih bisa disebut kesejahteraan?
Jika masyarakat mendapatkan keuntungan ekonomi hari ini tetapi beberapa tahun kemudian harus menghadapi kerusakan lingkungan, apakah keuntungan tersebut benar-benar sepadan?
Dan jika sebuah aktivitas ekonomi pada akhirnya menimbulkan korban jiwa, maka pertanyaan tentang harga sebuah kesejahteraan menjadi semakin serius.
Jangan Tunggu Korban Baru Bertindak
Pemerintah daerah, pemerintah provinsi, aparat penegak hukum, dan instansi teknis memiliki tanggung jawab masing-masing dalam memastikan aktivitas pertambangan berjalan sesuai aturan.
Masyarakat juga perlu diberikan alternatif mata pencaharian yang realistis. Sebab, memberantas PETI tanpa memberikan solusi ekonomi kepada masyarakat juga berpotensi melahirkan persoalan baru.
Karena itu, pendekatannya tidak cukup hanya dengan penertiban.
Harus ada kombinasi antara penegakan hukum, perlindungan lingkungan, keselamatan masyarakat, pemberdayaan ekonomi, serta penyediaan lapangan pekerjaan yang legal dan berkelanjutan.
Pilihan Kita: Kesejahteraan atau Petaka?
Pada akhirnya, persoalan PETI bukan hanya tentang izin pertambangan.
Ini adalah persoalan tentang nilai sebuah kehidupan dan masa depan masyarakat.
Jangan sampai kita terjebak pada angka produksi emas, perputaran uang, atau keuntungan ekonomi, sementara di sisi lain sungai tercemar, hutan rusak, tanah menjadi rawan longsor, dan keselamatan manusia dipertaruhkan.
Kesejahteraan seharusnya tidak dibangun di atas ancaman terhadap nyawa manusia.
Jika aktivitas pertambangan memang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maka harus dilakukan secara legal, aman, bertanggung jawab, dan memperhatikan kelestarian lingkungan.
Sebab emas dapat dicari kembali.
Uang dapat diperoleh kembali.
Tetapi nyawa manusia tidak pernah bisa dikembalikan.
Maka sebelum terlambat, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan harus menjawab pertanyaan paling mendasar:
Apakah PETI benar-benar sedang membawa masyarakat menuju kesejahteraan, atau justru sedang menunggu waktu untuk menjadi perenggut nyawa?
(Nusantara)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *