Naraswara.id — Peringatan Milad ke-60 Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara) berlangsung hangat dan penuh keakraban.
Bertempat di Dwi Caffe, Rabu (18/9/2026), kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi perayaan seremonial. Momentum enam dekade KAHMI itu menjadi ruang untuk mempererat tali silaturahmi, menumbuhkan kepedulian sosial, sekaligus meneguhkan kembali komitmen alumni HMI dalam memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan pembangunan daerah.
Suasana kekeluargaan kian terasa bermakna melalui aksi nyata penyerahan santunan kepada anak-anak yatim. Presidium MD KAHMI Boltara, Dr. Arter Datungsolang, M.Si., mengapresiasi konsep perayaan yang dikemas secara bersahaja.
“Berkumpul di tempat yang lebih mewah bukan berarti itu yang lebih baik. Dalam suasana seperti ini justru sangat menyenangkan dan menyejukkan hati,” ujar Arter.
Ia menambahkan, di usia organisasi yang kian matang, seluruh alumni perlu berefleksi serta merawat kembali akar perjuangan HMI. “Kita boleh berbeda apa saja, tetapi kita dalam satu tujuan. Kita kembali kepada tujuan awal kita masuk HMI, terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi,” tegasnya.
Bupati Boltara,Dr. Sirajudin Lasena, S.E., M.E., yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut, menegaskan peran vital KAHMI sebagai lembaga pemikir (think tank) kebangsaan maupun daerah. Ia mengajak para alumni untuk terus menyumbangkan pemikiran kritis dan konstruktif guna mengawal arah pembangunan di Boltara.
“KAHMI itu sebagai think tank kebangsaan. Tidak lagi kita turun ke jalan, akan tetapi kita sudah masuk dalam ruang-ruang gagasan,” tutur Sirajudin.
Sebagai Kepala Daerah yang juga bagian dari keluarga besar HMI, Sirajudin menegaskan keterbukaannya terhadap masukan, ruang diskusi, hingga kritik yang membangun dari para alumni demi menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
Simbol Perekat Persatuan di Tengah Keberagaman
Di samping peran intelektual, Sirajudin juga menyoroti pentingnya posisi KAHMI sebagai pemersatu di tengah dinamika sosial maupun politik daerah. Keberagaman profesi, partai politik, dan pandangan di antara alumni dinilainya sebagai kekayaan organisasi yang harus bermuara pada kepentingan bersama.
“Mungkin di partai politik berbeda, mungkin dalam organisasi lain juga berbeda. Akan tetapi ketika kita bicara tentang KAHMI, kita adalah KAHMI. Kita harus membawa misi sebagai perekat, jangan justru kehadiran KAHMI menjadi pemecah persatuan di daerah yang kita cintai ini,” pukasnya.
Melalui momentum perayaan ke-60 ini, KAHMI Boltara kembali membuktikan bahwa kekuatan tradisi intelektual dan jaringan alumni yang solid mampu diterjemahkan menjadi aksi nyata—merawat persaudaraan, membantu sesama, serta berkontribusi langsung bagi kemajuan Daerah.
Gergaji






