Warga Sinjai Ditandu 2 Kilometer, Akses Jalan Buruk Hambat Layanan Kesehatan

Naraswara.id — Buruknya akses infrastruktur kembali memakan korban di Kabupaten Sinjai. Seorang warga Dusun Tonrong, Desa Terasa, Kecamatan Sinjai Barat, bernama Ramlah (22), terpaksa ditandu sejauh kurang lebih dua kilometer demi mendapatkan penanganan medis.

Peristiwa itu terjadi pada 2 Maret 2026 sekitar pukul 15.00 WIB. Ramlah mengalami pendarahan hebat pasca melahirkan hingga kondisinya sempat kritis dan membuat keluarga panik.

Sebelum dirujuk ke Puskesmas Tengalembang di wilayah Bonto Salama, korban sempat mendapat pertolongan pertama dari seorang perawat. Setelah dua jam penanganan, pendarahan berhasil dihentikan. Namun, Ramlah sempat kehilangan kesadaran akibat banyaknya darah yang keluar.

Khawatir kondisi kembali memburuk, keluarga akhirnya memutuskan untuk membawa korban ke fasilitas kesehatan yang lebih memadai. Sayangnya, keterbatasan akses jalan membuat proses evakuasi tidak mudah.

Ramlah harus ditandu menggunakan sarung dan bambu oleh keluarga dan warga setempat, melewati jalan tanah yang licin dan sulit dilalui kendaraan, terutama di tengah musim hujan.

“Iya, kami putuskan membawa ke puskesmas agar bisa segera ditangani tenaga medis,” ujar Syamsul, pihak keluarga.

Ia menjelaskan, kondisi jalan di Dusun Tonrong hingga kini masih berupa tanah, sehingga kendaraan, termasuk ambulans, tidak dapat menjangkau lokasi.

“Jalan di dusun kami tidak memungkinkan dilalui ambulans, apalagi saat hujan. Sangat licin,” tambahnya.

Menurut Syamsul, kejadian serupa bukan kali pertama terjadi. Warga yang sakit kerap harus ditandu lebih dulu menuju titik yang bisa dijangkau kendaraan.

Kondisi ini pun memicu kekecewaan masyarakat terhadap janji pembangunan infrastruktur yang dinilai belum menyentuh wilayah mereka.

“Kami berharap pemerintah daerah benar-benar memperhatikan kondisi ini. Jangan hanya janji, kami butuh bukti nyata. Jalan di dusun kami harus segera diperbaiki,” tegasnya.

Peristiwa ini menjadi potret nyata ketimpangan pembangunan di daerah. Di saat akses layanan kesehatan merupakan hak dasar setiap warga, masyarakat di pelosok masih harus berjibaku dengan medan berat demi mendapatkan pertolongan medis.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin akan muncul korban-korban berikutnya—bukan semata karena penyakit, melainkan akibat lambannya pembangunan yang tak kunjung merata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!