Razia PETI Busato Nihil Temuan: Fakta Lapangan atau Skenario yang Terlalu Rapi?

Naraswara.id Razia yang dilakukan oleh aparat penegak hukum (APH) Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) di lokasi Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) Desa Busato, Kecamatan Pinogaluman,beberapa waktu lalu menyisakan tanda tanya besar. Aparat menyatakan tidak menemukan aktivitas pertambangan ilegal di lokasi yang selama ini dilaporkan warga sebagai titik aktif PETI. Pernyataan ini sontak memunculkan pertanyaan publik: benarkah PETI sudah berhenti, atau razia sekedar datang di waktu yang “tepat”?

 

Pernyataan “tidak ditemukan aktivitas” memang sah secara prosedural. Aparat hanya bisa bekerja berdasarkan apa yang terlihat saat pengecekan dilakukan. Namun, persoalannya tidak sesederhana itu. Busato bukan nama baru dalam pusaran isu PETI. Aktivitas tambang ilegal di wilayah ini telah dilaporkan berulang kali, berlangsung cukup lama, terbuka, dan disebut melibatkan alat berat.

 

Antara Klaim Aparat dan Kesaksian Warga

 

Berbeda dengan pernyataan aparat, kesaksian warga dan pantauan lapangan sebelumnya justru menunjukkan indikasi sebaliknya. Sungai yang keruh, lahan yang rusak, serta lalu-lalang aktivitas mencurigakan menjadi “jejak” yang sulit dibantah. Fakta lingkungan tidak muncul begitu saja tanpa sebab.

 

Publik pun wajar bertanya:

 

Jika memang tidak ada aktivitas PETI, dari mana asal kerusakan lingkungan yang terlihat nyata?

 

Jika tambang ilegal telah berhenti, sejak kapan dan atas dasar penindakan apa?

 

Dan yang paling krusial, mengapa setiap razia selalu berujung nihil temuan, sementara isu PETI terus berulang?

 

Razia Datang, Aktivitas Menghilang

 

Dalam praktik di banyak daerah, PETI bukanlah aktivitas statis. Ia bergerak, bersembunyi, dan sangat peka terhadap informasi. Tidak sedikit kasus di mana aktivitas dihentikan sementara sebelum razia, lalu kembali berjalan setelah aparat meninggalkan lokasi.

 

Di titik inilah muncul dugaan klasik namun relevan: apakah razia benar-benar bersifat mendadak dan menyeluruh, atau justru mudah ditebak sehingga tak pernah menyentuh inti persoalan?

 

Pertanyaan ini bukan tuduhan, melainkan konsekuensi logis dari pola yang terus berulang: laporan marak, razia dilakukan, hasil nihil, lalu aktivitas diduga muncul kembali.

 

Dugaan Permainan: Persepsi yang Tumbuh karena Minim Transparansi

 

Harus diakui, dugaan adanya “permainan” tidak lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh subur ketika penegakan hukum terkesan normatif, tanpa tindak lanjut yang jelas. Tanpa penyitaan alat, tanpa penetapan tersangka, tanpa penjelasan detail kepada publik, maka yang tersisa hanyalah persepsi.

 

Dan dalam urusan kepercayaan publik, persepsi adalah masalah serius.

 

Jika aparat benar-benar ingin memutus isu PETI di Busato, maka razia semata tidak cukup. Diperlukan pengawasan berkelanjutan, penelusuran alur alat berat, pemilik modal, serta siapa yang bermain di belakang layar.

 

Negara Jangan Sekedar Hadir, Tapi Menyelesaikan

 

PETI Busato bukan sekedar soal ada atau tidaknya aktivitas saat razia. Ini soal kehadiran negara yang dirasakan nyata oleh masyarakat, bukan hanya melalui patroli singkat, tetapi lewat penindakan yang tegas dan transparan.

 

Selama razia selalu berakhir “tidak ditemukan apa-apa”, sementara luka lingkungan terus terlihat, maka pertanyaan publik akan terus menggema:

yang tidak ada itu aktivitas PETI, atau keberanian menegakkan hukum sampai ke akar?

(Nusantara) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!