Naraswara.id – Babak baru organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) akhirnya menemui titik terang. Konflik dualisme kepengurusan yang sempat memanas di tubuh organisasi wartawan tertua di Indonesia ini resmi berakhir setelah PWI Pusat menetapkan Voucke Lontaan sebagai Ketua PWI Sulut yang sah, berdasarkan hasil Kongres PWI 2025 di Cikarang.
Dengan keputusan tersebut, seluruh struktur kepengurusan PWI di kabupaten dan kota se-Sulut kini berada di bawah koordinasi pengurus provinsi yang dipimpin Voucke Lontaan. PWI Pusat berharap, berakhirnya konflik ini menjadi momentum penyatuan seluruh anggota untuk kembali fokus pada nilai-nilai profesionalitas, independensi, dan solidaritas organisasi.
Namun di tengah semangat rekonsiliasi itu, muncul dinamika baru di tingkat daerah. Ketua PWI Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), Patris Babay, menyatakan akan melaporkan Panitia Pelaksana Drag Race Bolmut karena diduga menggunakan logo resmi PWI tanpa izin dalam kegiatan mereka.
“Kami mendukung kegiatan positif anak muda, tapi penggunaan simbol organisasi seperti logo PWI harus seizin pengurus yang sah. Ini demi menjaga marwah dan nama baik organisasi,” tegas Patris Babay, Senin (20/10/2025).
Patris menjelaskan, tindakan panitia yang mencantumkan logo PWI tanpa persetujuan resmi berpotensi menimbulkan kesalahpahaman publik, seolah kegiatan tersebut difasilitasi oleh PWI.
“Kami akan menempuh jalur resmi dengan mengirimkan laporan dan teguran tertulis. Langkah ini bukan untuk menghukum, melainkan untuk mengedukasi,” tambahnya.
Menanggapi hal itu, Ketua PWI Sulawesi Utara, Voucke Lontaan, memberikan dukungan penuh terhadap sikap tegas PWI Bolmut.
“Saya sepenuhnya mendukung langkah Ketua PWI Bolmut. Setiap penggunaan nama dan logo PWI harus melalui izin resmi. Kita ingin menjaga wibawa organisasi dan memastikan PWI tidak disalahgunakan untuk kepentingan di luar koridor profesional,” ujar Voucke.
Ia juga menyerukan agar seluruh pengurus dan anggota PWI di Sulawesi Utara kembali memperkuat solidaritas pasca berakhirnya dualisme.
“Sekarang saatnya kita bersatu, bekerja profesional, dan mengembalikan marwah PWI sebagai rumah besar bagi seluruh wartawan,” tutupnya.
Dengan pengesahan resmi dari PWI Pusat terhadap kepemimpinan Voucke Lontaan, struktur organisasi PWI di Sulawesi Utara kini memiliki legitimasi hukum dan administratif yang kuat. Sementara langkah tegas dari Ketua PWI Bolmut menjadi bukti nyata komitmen menjaga integritas dan kehormatan organisasi, agar PWI tetap menjadi simbol pers yang profesional, kredibel, dan berwibawa di tengah masyarakat.
(Gergaji)













